IPW: Indonesia Tak Akan Bubble

Berita Properti,

Berita Terkait:

Indonesia Property Watch (IPW) selalu memberikan analisisnya bahwa di Indonesia tidak akan terjadi bubble (gelembung) properti dalam jangka waktu 5 tahun ke depan. Meskipun terdapat kenaikan harga yang sangat tinggi dalam 2 – 3 tahun terakhir, namun hal tersebut lebih merupakan bentuk mekanisme pasar dimana permintaan sedang tinggi yang mengakibatkan para pengembang menjual dengan harga setinggi-tingginya juga. 
 
Direktur IPW, Ali Tranghanda mengatakan, kondisi tersebut lebih merupakan sebuah kondisi over value dalam bisnis properti dan bukan bubble. Beberapa kalangan berpendapat bahwa kedua kondisi tersebut merupakan kondisi yang sama saja, namun sebenarnya terdapat perbedaan yang mendasar.
 
Sebagai illustrasi Ali menggambarkan kondisi bubble terjadi di beberapa negara dengan aturan kepemilikan asing yang dibuka luas. Harga properti misalkan senilai Rp. 2 miliar, ketika dijual untuk orang asing, dapat naik berlipat-lipat karena patokan harga properti menjadi patokan regional dengan pasar orang asing yang mempunyai daya beli tinggi. Tentunya pengembang tidak akan menjual dengan harga Rp. 2 miliar lagi, mereka mungkin menjual dengan harga Rp. 5 – 6 miliar. Inilah yang menjadi awal terjadinya bubble properti.
 
"Di Indonesia, khususnya di Jabodetabek, kondisi yang terjadi tidak sama dengan negara-negara lain yang membuka kepemilikan asing dengan luas. Kenaikan yang terjadi di Indonesia merupakan feed back pemintaan pasar yang tinggi yang semua berasal dari pasar lokal. Pengembang mengukur dengan mematok harga sesuai daya beli konsumen lokal. Karena sebagian besar properti di Indonesia masih didominasi oleh pasar pembeli lokal. Pengembang akan menaikan harga propertinya sampai terlihat indikasi penurunan penjualan," katanya dalam keterangan tertulis, Jumat, (25/10).
 
Aturan Bank Indonesia dengan pembatasan Loan to Value dan pengetatan KPR Inden akan memberikan dampak yang sangat baik untuk memberikan pasar properti yang lebih sehat dimana saat ini cenderung spekulatif. Meskipun agak terlambat, yang seharusnya diberlakukan ketika pasar properti sedang dalam siklus uptrend 2-3 tahun belakangan, namun kebijakan yang diambil relatif akan meredam aksi spekulasi yang lebih tinggi lagi.
 
"Memasuki tahun 2014, pasar properti akan melambat dan berlanjut sampai 2-3 tahun ke depan. Karenanya para pelaku pasar dapat menyikapi kondisi ini sebagai sebuah siklus alamiah, karena siklus tidak selamanya di atas dan juga tidak selamanya di bawah. Bagaimana kita dapat menyikapinya," ungkap Ali.