Bangunan Yang Didirikan Di Tengah Laut
18 SHARES

Bangunan Yang Didirikan Di Tengah Laut

  • 21 January 2013 /

Bangunan yang didirikan di tengah laut

 

1.    Clingstone Home

Rumah ini benar-benar luar biasa. Bukan hanya karena usianya yang telah 103 tahun tapi juga karena didirikan di tengah laut. Konon rumah ini telah berdiri sejak 1905, tepatnya di atas bebatuan Rhode Island yang ada di tengah laut. Rumah itu kerap disebut Clingstone.
Rumah ini cukup besar dan tergolong nyaman. Rumah tersebut dibangun oleh JS Lovering Wharton dengan biaya 36.000 dolar , sepupu jauh Henry Wood (79), yang kini menjadi pemiliknya.
Henry Wood membelinya dengan mantan istrinya pada tahun 1961 seharga 3600 dolar AS. Kemudian dia renovasi dan kini menjadi manson yang menarik dan nyaman dan telah didiami selama dua dasawarsa lebih.
Ini memang penemun Wood yang luar biasa.
Bayangkan rumah itu memiliki 23 kamar, dan Wood tetap mempertahankan arsitektur kamar dan settingannya seperti 100 tahun lalu. Setiap tahun, pada hari raya tertentu, Wood dan keluarganya mengundang puluhan teman-temannya untuk berlibur di tempat mereka.
Rumah itu memang sangat besar, karenanya membutuhkan banyak orang untuk bisa membersihkannya. Maklum saja, Wood dan keluarganya tidak setiap hari tinggal di sana. Mereka hanya menggunakan manson itu untuk tempat berlibur. Jadi ketika mereka datang, hal yang pertama harus dilakukan adalah, bekerja keras membuat tempat itu kinclong kembal
Namun para relawan, teman-teman Wood, tentu saja dengan suka rela membantu membersihkannya. Mereka mengaggap itu kegiatan menarik pengisi liburan. Wood dan keluarga serta teman-temannya hanya datang ke sana ketika musim panas. Biasanya selama sepekan mereka menghabiskan masa libur. Sementara di musim dingin, manson besar itu sunyi dan sepi. Boat mereka tetap aman di simpan di dok terapung dekat James Town Boatyard.

 

2.    Oil Stones Home

Oil Stones, begitu mereka menyebutnya, berada di Soviet dan dibangun usai Perang Dunia ke-II dengan teknologi tercanggih milik Uni Soviet pada masa itu. Namun, kini hanya menyisakan cerita-cerita kejayaan masa lalu.
Kota ini terbentuk di awal tahun 1940-an dan 1950-an, tepat setelah Perang Dunia ke 2 Rusia telah pulih dari akibat invasi Nazi. Ketika itu, sangat diperlukan sumber energi yang begitu banyak, salah satunya minyak.
Salah satu tempat pengeboran minyak terbesar Soviet pada masa itu terdapat di selatan Rusia, adalah kawasan beku di Siberia utara, sampai sekarang ladang minyak itu masih terus beroperasi. Tempat lainnya adalah di pengeboran minyak lepas pantai yakni di tengah lautan Kaspia, khususnya daerah-daerah yang sekarang menjadi wilayah Aizerbajan.
Setelah serangan besar-besaran Jerman, negara besar itu bangkit kembali dengan melakukan pengeboran besar-besaran. Untuk keperluan itulah kemudian dibangun kota di tengah lautan Kaspian.
Kota di tengah laut itu luar biasa besar. Jaraknya sekitar 42 km dari lepas pantai. Gagasan membangun kota di tengah laut itu mendapat dukungan penuh dari pemerintah Soviet masa itu.
Pembangunan kota itu selesai dalam tempo relative cepat. Panjang jalan-jalan di kota itu kalau disambungkan keseluruhannya sekitar 350 km lebih. Ada sembilan bangunan raksasa di kota itu, termasuk sekolah dan kompleks industri, bahkan untuk relaks seperti air mancur serta tempat bermain anak-anak. Tak ketinggalan ada taman dengan rumput yang menghijau tempat anak-anak bermain bola.
Kota ini bahkan ditinggali oleh 2.000 jiwa, dan jarak kota ini ke daratan sejauh 42 km. Sejauh ini, masyarakat Oil Stone City terlihat bahagia hidup di kota yang mengapung di tengah-tengah lautan ini.

 

3.    Tanah Lot

adalah sebuah objek wisata di Bali, Indonesia. Di sini ada dua pura yang terletak di atas batu besar. Satu terletak di atas bongkahan batu dan satunya terletak di atas tebing mirip dengan Pura Uluwatu. Pura Tanah Lot ini merupakan bagian dari pura Dang Kahyangan. Pura Tanah Lot merupakan pura laut tempat pemujaan dewa-dewa penjaga laut. Menurut legenda, pura ini dibangun oleh seorang brahmana yang mengembara dari Jawa. Ia adalah Danghyang Nirartha yang berhasil menguatkan kepercayaan penduduk Bali akan ajaran Hindu dan membangun Sad Kahyangan tersebut pada abad ke-16. Pada saat itu penguasa Tanah Lot, Bendesa Beraben, iri terhadap beliau karena para pengikutnya mulai meninggalkannya dan mengikuti Danghyang Nirartha. Bendesa Beraben menyuruh Danghyang Nirartha untuk meninggalkan Tanah Lot. Ia menyanggupi dan sebelum meninggalkan Tanah Lot beliau dengan kekuatannya memindahkan Bongkahan Batu ke tengah pantai (bukan ke tengah laut) dan membangun pura disana. Ia juga mengubah selendangnya menjadi ular penjaga pura. Ular ini masih ada sampai sekarang dan secara ilmiah ular ini termasuk jenis ular laut yang mempunyai ciri-ciri berekor pipih seperti ikan, warna hitam berbelang kuning dan mempunyai racun 3 kali lebih kuat dari ular cobra. Akhir dari legenda menyebutkan bahwa Bendesa Beraben 'akhirnya' menjadi pengikut Danghyang Nirartha
 

Artikel Terkait

Komentar

Loading